23 Apr 2025
Oleh:
Riffat Akmal Ramadhan
Sumber Gambar:
Pexels
RANGERS! Kalian ngerasa ngga sih tahun ini tuh kaya banyak banget surprise nya?
Tahun 2025, rasanya udah kayak naik roller coaster yang nggak ada remnya. Dari awal tahun, kita sudah disuguhkan berita-berita yang bikin kepala cenat-cenut. Rasanya tiap hari ga ada habisnya berita-berita yang kondisinya simpang siur. Lalu, kita gimana? Minyours just want to say ”Terimakasih karena sudah bertahan, sehat-sehat orang waras”
Now, coba deh pikirin berapa banyak informasi yang kita telan bahkan sebelum sarapan? Baru juga melek, niatnya cuma matiin alarm malah nyasar scroll Tiktok, Ig, dan Twitter. Sampe akhirnya sarapan konten-konten yang malah bikin mood anjlok. Kedengarannya sepele sih, tapi ini nyata banget dialami banyak orang.
Dari kecil kita diajarin, “Segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik.” Yup, termasuk informasi. Kalau tiap hari otak kita dibombardir konten benar atau salah bahkan yang bikin salah kaprah, kita bisa kena yang namanya information overload alias kebanjiran informasi🌊
Dampaknya? Gak main-main loh, Rangers. Pikiran jadi cepat lelah, emosi gampang naik turun, dan yang paling terasa adalah fokus jadi gampang buyar. PRODUKTIF?! Bye, bye…👋🏻
Lalu, gimana cara tetap waras di tengah tsunami informasi ini? Jawabannya simpel tapi powerful Make a Boundaries.
Sumber utama banjir informasi itu karena kita nggak punya “filter”. Semua informasi yang masuk kita telan bulat-bulat tanpa seleksi, tanpa kita pastikan dulu kebenarannya. Bahkan yang bikin makin salah kaprah itu, kita main share aja beritanya ke temen, keluarga,kerabat. Alhasil, kita malah menyebarkan berita yang tidak kredibel hampir ke semua orang.
🗣️“Terus gimana dong Minyours cara menghadapinya?”
SINI MINYOURS KASIH TAU CARANYA💡
Langkah pertama, jangan males baca!
Minim literasi itu bahaya banget lho, Rangers. Menurut laporan UNESCO, tingkat membaca masyarakat Indonesia sangat rendah, dengan hanya 1 dari 1.000 orang yang aktif membaca. Hasil survei PISA (Programme for International Student Assessment) juga menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia sering menempati peringkat bawah dibandingkan negara-negara lain.
Langkah kedua, pilih platform dan sumber informasi yang sehat.
Gak semua medsos harus kamu pakai, dan gak semua akun harus kamu ikuti. Tanyakan ke diri sendiri, “Akun ini nambah insight atau malah nambah overthinking?”. Jangan main asal percaya sama berita yang cuma selewat.
Langkah ketiga, atur waktu scrolling.
Edukasi itu penting. Mau follow akun edukatif sebanyak apapun, kalau kamu konsumsi terus-terusan tanpa jeda, ya tetap akhirnya capek juga. Atur batasan screen time, kasih ruang buat otakmu beristirahat.
Dan jangan lupa, perhatikan juga apa yang kamu keluarkan ke dunia maya.
Daripada cuma ikut-ikutan komen asal di kolom komentar, lebih baik salurkan energimu untuk menulis kritik yang cerdas dan membangun. Media sosial bukan tempat buang sampah emosi, tapi ruang publik yang bisa jadi tempat diskusi sehat.
Terakhir, kutipan dari Gerald Sebastian, Co-founder Kok Bisa, dapat pegangan kita semua:
“Stay informed, but don’t let it consume you.”
Karena pada akhirnya, kendali ada di tangan kita. Jangan biarkan layar kecil seenaknya atur-atur emosi dan pikiranmu. Kita yang harus pegang kemudi.😉
Company Visit ke Bursa Efek Indonesia: Youth Ranger Indonesia Jakarta-Banten Tanamkan Pentingnya Literasi Keuangan untuk Generasi Muda
04 Jun 2025
Ketika Pikiran Gelap Datang, Bagaimana Generasi Z Bisa Menang Melawan Suicidal Thought?
26 Aug 2024
Toxic Comparison : Alasan kenapa kita selalu merasa kurang?
30 May 2025